Jan 20, '10 4:39 AM
for everyone
“Mungkin Tuhan mulai bosan, melihat tingkah kita, yang selalu salah dan bangga dengan dosa-dosa…”, Ebiet G Ade
Mual rasanya melihat berhala-berhala sesembahan yang tumbuh subur di sekitar kita. Berhala-berhala yang dengan kecepatan cahayanya berhasil menggeser Islam dalam qolb sebagian kita (walaupun menggeser Islam dalam KTP masih belum).
Berhala-berhala itu seakan berlomba untuk merubah wujudnya agar tampil lebih elegan di putaran zaman. Ada yang tak banyak merubah dirinya seperti penyembahan benda-benda angkasa. Penyembahan bintang dan benda angkasa lainnya hanya memindah tempat ibadahnya ke halaman tabloid dan majalah. Ia berganti nama baru: zodiak dan horoskop.
Ada juga yang metamorfosisnya nyaris sempurna. Inilah berhala kupu-kupu. Dunia sedang menyaksikan dakwah agama paganis-konsumerisme melalui iklan di televisi. Dan setiap waktu berbondonglah penyambut seruan itu menuju tempat-tempat ibadah elegan yang kini menjamur sampai pinggir kota: mall-mall megah.
Allah memberikan pasar sebagai tempat ibadah bagi iblis. Anak turunnya telah membangunnya menjadi istana peribadatan yang megah. Di sana bertahta berhala baru bernama trend dan mode. Mungkin ini metamorfosis sempurna dari lataa dan ‘uzza. Mereka didesain menjadi salah satu sumber pemborosan. Pemborosan adalah proyek memperbanyak saudara syaithan.
“sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaithan, dan syaithan itu sangat ingkar kepada Rabb-nya”. (Al Israa’ 27)
Ini bukan soal pemenuhan kebutuhan. Karena kini orientasi massa telah diubah dari need menjadi want. Bukan soal punya uang atau tidak punya uang. Ini soal eksploitasi -ekonomi, budaya bahkan politik- terhadap konsumen dengan imaji-imaji sesat. Iklan telah mengajarkan bahwa wanita hanya dihargai sebatas kilau rambut, kemulusan wajah dan putihnya kulit. Iklan telah mendidik kita untuk menstandarkan kebenaran pada penilaian manusia kebanyakan tanpa nalar dan sikap kritis. Inilah varises yang menyerang pembuluh peradaban dan kemanusiaan. Bahkan disini, di dalam rumah kita, benda-benda telah menjadi rujukan utama dalam menyikapi kehidupan. Ukuran mulia dan hina telah terjenjang dalam besaran materi.
Berhala-berhala itu bermetamorfosis. Sempurna. Bagai kupu-kupu. Hati-hatilah jika ia sempat bertelur di lekuk-lekuk otak. Maka ia menjadi teori-teori ilmiah, riset-riset empiris dan subjektivitas yang diobjektivitaskan. Dan disembah. Berhala-berhala itu bermetamorfosis sempurna. Bagaikan kupu-kupu. Hati-hatilah jika ia sempat bertelur di labirin hati. Jadilah ia berhala terbesar yang akan bertahta dalam jiwa. Namanya, hawa nafsu. Dan disembah.
أفرأيت من اتخذ إلهه هواه وأضله الله على علم وختم على سمعه وقلبه وجعل على بصره غشاوة فمن يهديه من بعد الله أفلا تذكرون
“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai sesembahannya dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmuNya? Dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan di atas penglihatannya….” (Al Jatsiyah 23)
Apakah kita termasuk di dalamnya? Hmmmm jika iya, sepertinya kita harus menelaah ulang syahadat yang kita ucapkan minimal sembilan kali sehari (itu jika shalat wajib kita selalu penuh^^). Jangan sampai kita seperti kaum bani Israil. Kaumnya nabi musa. Kaum yang hanya mengikuti langkah kaki sang nabi tanpa mengikuti keimanannya. Maka tak heran jika sang nabi selalu berhati-hati dalam memilih tiap katanya. Seperti saat berada di tepi laut merah, saat nabi musa dan kaumnya yang tak tahu malu itu terhimpit dalam kejaran fir’aun. Dalam QS Asy Syu’araa 62, nabi Musa AS berkata
قال كلا إن معي ربي سيهدين
Musa menjawab: "Sekali-kali tidak akan tersusul; sesungguhnya Rabbku besertaku, kelak Dia akan memberi petunjuk kepadaku".
Adakah kalian menyadari keunikan dalam diksi beliau? Mengapa beliau berkata “sesungguhnya Rabbku besertaku”? Mengapa tidak beliau katakan saja “sesungguhnya Rabb kita bersama kita”? ada apa sebenarnya? Inilah perbedaan antara Bani Israil yang dipimpin Musa dengan Abu Bakar Ash Shiddiq yang menyertai Rasulullah berhijrah. Ketika Abu Bakar khawatir para pengejar dari makkah akan melihat mereka berdua saat bersembunyi di ceruk kecil bernama Gua Tsur, Rasulullah tegas berkata sebagaimana diabadikan Surat At Taubah ayat 40. “Jangan berduka, Allah bersama kita”.
Lantas apakah berhenti sampai disitu? Oh tidak, kebodohan itu masih terus berlanjut….
وجاوزنا ببني إسرائيل البحر فأتوا على قوم يعكفون على أصنام لهم قالوا يا موسى اجعل لنا إلها كما لهم آلهة قال إنكم قوم تجهلون
Dan Kami seberangkan Bani Israel ke seberang lautan itu, maka setelah mereka sampai kepada suatu kaum yang tetap menyembah berhala mereka, Bani Israel berkata: "Hai Musa, buatlah untuk kami sebuah tuhan sebagaimana mereka mempunyai beberapa tuhan". Musa menjawab: "Sesungguhnya kamu ini adalah kaum yang tidak mengetahui (sifat-sifat Tuhan)". (Al A’raaf 138)
Bayangkan!!! Baru beberapa detik lalu Allah selamatkan mereka dari kejaran Fir’aun dan tentaranya. Baru sekian hitungan berlalu ketika lautan membelah menjadi jalan seberang ajaib untuk mereka. Baru sekian hembusan nafas berganti ketika Allah menunjukkan kuasaNya untuk menyelamatkan mereka. Kini apa yang mereka minta? “Bikinin tuhan donk!”. Luar Biasa Bukan?????
Dan kebodohan itu tak akan terhenti……
واتخذ قوم موسى من بعده من حليهم عجلا جسدا له خوار ألم يروا أنه لا يكلمهم ولا يهديهم سبيلا اتخذوه وكانوا ظالمين
Dan kaum Musa, setelah kepergian Musa ke gunung Thur membuat dari perhiasan-perhiasan (emas) mereka anak lembu yang bertubuh dan bersuara. Apakah mereka tidak mengetahui bahwa anak lembu itu tidak dapat berbicara dengan mereka dan tidak dapat (pula) menunjukkan jalan kepada mereka? Mereka menjadikannya (sebagai sembahan) dan mereka adalah orang-orang yang dzalim. (Al A’raaf 148).
Bayangkan lagi!!!! Baru ditinggal ke gunung Thur sebentar saja, sudah pandai buat Tuhan dari perhiasan emas. Sepertinya dalam otak bani Israil hanya terdapat satu keinginan, “bagaimana yaa, bikin Musa dan Tuhannya itu menjadi tidak berarti!”
Dan pikiran itu mereka wariskan pada anak cucu mereka hingga saat ini. Pikiran, “bagaimana yaa bikin Muhammad dan Tuhannya itu menjadi tidak berarti di hadapan umat mereka”. Maka diciptakanlah berhala-berhala baru yang elegan. Berhala sesembahan kaum yuppies, kaum hedonis, kaum millenium. Berbondong-bondong para muslimin dan muslimat menggadaikan keimanan mereka demi sesuap nafsu dan sepotong gengsi. Berlomba-lomba saudara-saudara muslim kita di tanah air mempercantik rumah mereka dengan berhala-berhala baru itu. Menumpuk Qur’an mereka di dalam kardus berdebu (itupun kalo pernah membelinya). Dan memajang berhala baru yang diberi sesaji dari penghasilan bulanan mereka.
Oke, kembali ke masa nabi Musa….
Ketika Allah memberi perintah pada Nabi Musa agar kaumnya menyembelih sapi betina. Mereka berkomentar, “apakah kau hendak jadikan kami bahan olok-olokan?”. Astaghfirullah, perintah Allah disebut akan jadi olokan? Ini sih mending disuruh nyembelih sapi, lha sekarang perintah menutup aurat, menjaga akhlak kesulilaan dan banyak perintah Allah yang lain, kata penyangkalannya persis sama, “apakah akan kau jadikan bangsa ini bahan olokan?”.
Persis sama ketika para wanita Indonesia berbondong-bondong demo ke senayan untuk memperjuangkan ketelanjangan. Mereka berteriak, “apa jadinya bangsa ini tanpa pornografi?”, “apa jadinya kami jika tidak bisa memamerkan keindahan tubuh kami”. Astaghfirullahhaladzim…..
Ingin rasanya kita berteriak pada para bani Israil busuk itu. “dasar penyelundup paganisme najis!!!!”. Tapi jangan-jangan, kita masih memiliki kemiripan dengan mereka, atau malah sudah ikut dalam barisan mereka…….meski sebagian. Na’udzubillahi min dzalik
Jumat, 26 Maret 2010
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar